MAKALAH
Perkembangan Teori
Manajemen Pendidikan
Diajukan Untuk Memenuhi
Tugas Mandiri
Mata Kuliah : MPBALS
Dosen Pengampu : Durtam Sayidi, S.Ag

Oleh :
Abdul Rohim
58420433
FAKULTAS
TARBIYAH/JURUSAN PBA/VIIA
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2012
BAB I
PENDAHULUAN
Lembaga Pendidikan
adalah merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur
berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya Pendidikan adalah
“usaha sadar dan direncanakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat
bangsa dan negara”.[1]
Dalam pelaksanaannya sebuah lembaga pendidikan kerap-kali dihadapkan pada
problem-problem sistem pembelajaran, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana,
materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses.
Dalam perkembangannya
lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang non-profit
oriented, memaksa pelaksana pendidikan menggunakan teori-teori yang sebelumnya
sudah berkembang dalam dunia ekonomi. Maka tak heran ketika kita mendengar
adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya itu diambil dari
teori-teori manajemen dalam dunia bisnis. Bukan berarti setelah meminjam teori
manajemen ekonomi sebuah lembaga pendidikan menjadi komersial, tetapi
semata-mata hanyalah digunakan sebagai landasan yang sistematis untuk mengelola
sebuah lembaga pendidikan. Sehingga hasilnya pun tidak bisa seperti yang
diharapkan kalau seseorang menerapkan teori manajemen dalam bidang bisnis.
Dari kondisi yang
semacam itulah, maka kita sebagai seorang yang nantinya akan mengemban amanah
untuk megembangkan potensi anak didik (manusia) dalam dunia pendidikan sesuai
yang diharapkan dari makna pendidikan itu sendiri, setidaknya memahami
bagaimana proses sebenarnya terntang perkembangan teori manajemen yang
dikembangkan dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kami sampaikan
dalam tulisan ini adalah mengenai perkembangan teori manajemen dari masa klasik
sampai masa kontemporer yang nantinya akan kita oleh dalam dunia pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. LANDASAR TEORI
1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah mempelajari
Perkembangan Teori Manajemen Pendidikan diharapkan mahasiswa dapat memahami :
a. Apa sebenarnya arti teori, manajemen, dan Administrasi.
b. Mengerti perkembangan teori manajemen mulai dari masa klasik, kuno, dan
kontemporer.
c. Bagaimana teori manajemen yang telah dikembangkan dalam dunia pendidikan
2. DESKRIPSI MATERI
Untuk memahami
perkembangan teori manajemen pendidikan, kita terlebih dahulu harus mengenal
apa itu teori dan apa itu manajemen serta bagaimana perkembangan teori
manajemen.
a. Pengertian Teori
Teori merupakan
kumpulan prinsip-prinsip (principles) yang disusun secara sistematis.
Prinsip tersebut berusaha menjelaskan hubungan-hubungan antara
fenomena-fenomena yang ada.[2]
Sebagai contoh, anda
mengamati bahwa tanah disekitar gunung berapi merupakan tanah yang subur. Ada
dua fenomena yang barangkali berkaitan : tanah yang subur dan gunung berapi.
Anda melangkah lebih lanjut dan mengambil kesimpulan : gunung berapi yang
menyebabkan tanah menjadi subur, tentu anda tidak mungkin mengambil kesimpulan
yang sebaliknya, tanah subur menyebabkan gunung berapi. Anda satu langkah lebih
maju, kemudian orang lain mengamati bahwa ada tanah yang subur meskipun tidak
berada didekat gunung berapi. Dengan “bukti” yang baru tersebut anda melakukan
pengamatan lebih lanjut. Anda sampai pada kesimpulan baru bahwa, bukan gunung
berapi itu sendiri yang membuat tanah subur, melainkan zat yang dikeluarkan
gubung berapi yang anda namakan humus. Anda memperbaiki kesimpulan anda menjadi
“humus bisa membuat tanah menjadi subur”. Anda sudah membuat teori.
Selanjutnya, anda bisa membuat prediksi, kalau tanah diberi humus, tanah
tersebut menjadi subur.
Misalkan ada seorang
petani yang menginginkan tanahnya menjadi subur, anda mempunyai teori humus.
Maka anda menyarankan tanah petani tersebut diberi humus biar subur. Jika
petani tersebut tidak tahu teori humus, dia akan mencoba-coba cara agar tanah
menjadi subur, pertama, mungkin dengan sesajian, kedua, mungkin
dengan membeli traktor. Petani tersebut telah melakukan coba-coba (trial and
error) yang kurang effisien. Dengan demikian teori bisa meminimalkan
coba-coba, dan mengefisienkan kerja kita, dengan asumsi teori tersebut benar.
b. Kegunaan (Fungsi) Teori
c. Pengertian Manajemen / Administrasi
Ada kaitan erat antara
oraganisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi adalah sekumpulan orang
dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka,
mula-mula mereka mengintegrasikan sumber-sumber materi maupun sikap para
anggota yang dikenal sebagai manajemen dan akhirnya barulah mereka melaksanakan
kegiatan-kegiatan untuk mencapai cita-cita tersebut. Baik manajemen maupun
melaksanakan kegiatan itu disebut administrasi.[3]
Pengertian administrasi
dengan pengertian manajemen masih kelihatan tidak terpisah secara jelas. Ada
yang mengatakan administrasi sebagai cara kerja pemerintahan dengan fungsi
merencanakan, mengorganisasi, dan memimpin.[4]
Ada pula ahli yang menyebut administrasi sebagai pengarah yang efektif
sementara manajemen dikatakannya sebagai pelaksana yang efektif.[5]
Sementara itu Mamduh
mendefinisikan Manajemen sebagai “sebuah proses merencanakan, mengorganisir,
mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan
menggunakan sumberdaya organisasi”.[6]
Definisi tersebut
mencakup beberapa kata/pengertian kunci, yaitu :
·
Proses yang merupakan
kegiatan yang direncanakan;
·
Kegiatan merencanakan,
mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan yang sering disebut sebagai
fungsi manajemen;
·
Tujuan organisasi yang
ingin dicapai melalui aktifitas tersebut;
·
Sumberdaya organisasi
yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Sedangkan William H
Newman (1951) mendefinikan Administrasi dapat dipahami sebagai pembimbingan,
kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang ke arah
pencapaian tujuan bersama.[7]
Sementara itu Sondang P. Siagian (1985;2) mengatakan bahwa administrasi adalah
keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yang telah diambil dan
pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.[8]
Dalam dunia pendidikan,
manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber
pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditentukan sebelumnya. Dipilih manajeman sebagai aktivitas agar seorang kepala
sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan,
sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan dan sebagai supervisor
dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.[9]
3. PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN
(1) Teori Manajemen Kuno;
Sampai dengan tingkat
tertentu, manajemen telah dipraktekkan oleh masyarakat kuno. Sebagai contoh,
bangsa Mesir bisa membuat piramida. Bangunan yang cukup kompleks yang hanya
bisa diselesaikan dengan koordinasi yang baik. Kekaisaran Romawi mengembangkan
struktur organisasi yang jelas, dan sangat membantu komunikasi dan pengendalian.
Meskipun manajemen
telah dipraktekkan dan dibicarakan di jaman kuno, tetapi kejadian semacam itu
relatif sporadis, dan tidak ada upaya yang sistematis untuk mempelajari
manajemen. Karena itu manajemen selama beberapa abad kemudian “terlupakan”.
Pada akhir abad 19-an,
perkembangan baru membutuhkan studi manajemen yang lebih serius. Pada waktu
industrialisasi berkembang pesat, dan perusahaan-perusahaan berkembang menjadi
perusahaan raksasa.
(2) Teori Manajemen Klasik
a) Teori Manajemen Klasik
·
Robert Owen (1771-1858)
Owen berkesimpulan
bahwa manajer harus menjadi pembaharu (reformer). Beliau melihat peranan
pekerja sebagai yang cukup penting sebagai aset perusahaan. Pekerja bukan saja
merupakan input, tetapi merupakan sumber daya perusahaan yang signifikan. Ia
juga memperbaiki kondisi pekerjanya, dengan mendirikan perumahan (tempat
tinggal) yang lebih baik. Beliau juga mendirikan toko, yang mana pekerjanya
tidak kesusahan dan dapat membeli kebutuhan dengan harga murah. Ia juga
mengurangi jam kerja dari 15 jam menjadi 10,5 jam, dan menolah pekerja dibawah
umur 10 tahun.
Owen berpendapat dengan
memperbaiki kondisi kerja atau invertasi pada sumber daya manusia, perusahaan
dapat meningkatkan output dan juga keuntungan. Disamping itu Owen juga
memperkenalkan sistem penilaian terbuka dan dilakukan setiap hari. Dengan cara
seperti itu manajer diharapkan bisa melokalisir masalah yang ada dengan cepat.
·
Charles Babbage
(1792-1871)
Babbage merupakan
profesor matematika di Inggris. Dengan metode kuantitatifnya beliau percaya :
a. Bahwa prinsip-prinsip ilmiah dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi
produksi, produksi naik biaya operasi turun
b. Pembagian Kerja (division of labor); dengan ini kerja/operasi
pabriknya bisa dianalisis secara terpisah. Dengan cara semacam ini pula training
bisa dilakukan dengan lebih mudah.
c. Dengan melakukan pekerjaan yang sama secara berulang-ulang, maka pekerja
akan semakin terampil dan berarti semakin efisien.
b) Teori Manajemen Ilmiah
·
Federick Winslow Taylor
(1856-1915)
Federick Taylor disebut
sebagai bapak manajemen ilmiah. Taylor memfokuskan perhatiannya pada studi
waktu untuk setiap pekerjaan (time and motion study); dari sini ia
mengembangkan analisis kerja. Taylor kemudian memperkenalkan sistem pembayaran
differential (differential rate).
Manajemen Taylor
didasarkan pada langkah atau prinsip sebagai berikut
:
|
a.
Mengambangkan Ilmu
untuk setiap elemen pekerjaan, untuk menggantikan pikiran yang didasari tanpa
ilmu.
|
|
b.
Mamilih
karyawan secara ilmiah, dan melatih mereka untuk melakukan pekerjaan seperti
yang ditentukan pada langkah I.
|
|
c.
Mengawasi karyawan
secara ilmiah, untuk memastikan mereka mengikuti metode yang telah
ditentukan.
|
|
d.
Kerjasama antara
manajemen dengan pekerja ditingkatkan. Persahabatan antara keduanya juga
ditingkatkan
|
·
Frank B. Gilberth
(1868-1924) dan Lillian Gilberth (1887-1972)
Keduanya adalah suami
istri yang mempunyai minat yangsama terhadap manajemen. Menurut Frank
pergerakan yang dapat dihilangkan akan mengurangi kelelahan. Semangat kerja
akan naik karena bermanfaat secara fisik pada karyawan. Sedang Lilian
memberikan kontribusi pada lapangan psikologi industri dan manajemen
personalia. Beliau percaya bahwa tujuan akhir manajemen ilmiah adalah membantu
pekerja mencapai potensi penuhnya sebagai seorang manusia.
Keduanya mengembangkan
rencana promosi tiga tahap, yaitu :
|
|
|
Menurut metode
tersebut, seorang pekerja akan bekerja seperti biasa, sambil menyiapkan promosi
karir, dan melatih calon penggantinya. Dengan demikian pekerja akan menjadi
pelaksana, pelajar yaitu menyiapkan karir yang lebih tinggi, dan pengajar dalam
arti mengajari dalon pengganti.
·
Henry L. Gantt
(1861-1919)
Gantt melakukan
perbaikan metode sistem penggajian Taylor (differential system) karena
menurutnya metode tersebut kurang memotivasi kerja. Sistem Pengawasan (supervisor)
diterapkannya sebagai upaya untuk memacu semangat kerja karyawan. Disamping itu
Gantt juga memperkenalkan sistem penilaian terbuka yang awalnya merupakan ide
Owen. Gantt chart (bagan Gantt) kemudian populer dan gigunakan untuk
perencanaan, yaitu mencatat scedul (jadwal) pekerja tertentu.
c) Teori Manajemen Organisasi
·
Henry Fayol (1841-1925)
Henry Fayol merupakan
industrialis Prancis, ia sering disebut sebagai bapak aliran manajemen klasik
karena upaya “mensistematisir” studi manajerial. Menurut Fayol, praktek
manajemen dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pola yang dapat diidentifikasi
dan dianalisis. Dan selanjutnya analisis tersebut dapat dipelajari oleh manajer
lain atau calon manajer.
Fayol adalah orang yang
pertama mengelompokkan kegiatan menajerial dalam 4 fungsi manajemen, yaitu :
(1) Perencanaan, (2) Pengorganisasian, (3) Pengarahan, dan (4) Pengendalian.
Fayol percaya bahwa manajer bukan dilahirkan tetapi diajarkan. Manajemen bisa
dipelajari dan dipraktekkan secara efektif apabila prinsip-prinsip dasarnya
dipahami.
·
Max Weber (1864-1920)
Max Weber adalah
seorang ahli sosiologi Jerman yang mengembangkan teori birokrasi. Menurutnya,
suatu organisasi yang terdiri dari ribuan anggota membutuhkan aturan jelas
untuk anggota organisasi tersebut. Organisasi yang ideal adalah birokrasi
dimana aktivitas dan tujuan diturunkan secara rasional dan pembagian kerja
disebut dengan jelas. Birokrasi didasarkan pada aturan yang rasional yang dapat
dipakai untuk mendesain struktur organisasi yang jelas.
Konsep birokrasi Weber
berlainan dengan pengertian birokrasi populer, dimana orang cnderung
mengartikan kata birokrasi dengan konotasi negatif, yaitu organisasi
yang lamban, tidak reponsif terhadap perubahan.
·
Mary Parker Follet
(1868-1933)
Mary Parker Follet agak
berbeda sedikit dengan pendahulunya karena memasukkan elemen manusia dan
struktur organisasi kedalam analisisnya. Elemen tersebut kemudian muncul dalam
teori perilaku dan hubungan manusia. Follet percaya bahwa seseorang akan
menjadi manusia sepenuhnya apabila manusia menjadi anggota suatu kelompok.
Konsekuensinya, Follet percaya bahwa manajemen dan pekerja mempunyai
kepentingan yang sama, karena menjadi anggota organisasi yang sama.
Selanjutnya Follet
mengembangkan model perilaku pengendalian organisasi dimana seseorang
dikendalikan oleh tiga hal, yaitu :
a. Pengendalian diri (dari orang tersebut);
b. Pengendalian kelompok (dari kelompok);
c. Pengendalian bersama (dari orang tersebut dan dari kelompok).
·
Chester I Barnard
(1886-1961)
Bernard mengambangkan
teori organisasi, menurutnya orang yang datang keorganisasi formal (seperti
perusahaan) karena ingin mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai sendiri. Pada
waktu mereka berusaha mencapai tujuan organisasi, mereka juga akan berusaha
mencapai tujuannya sendiri. Organisasi bisa berjalan dengan efektif apabila
keseimbangan tujuan organisasi dengan tujuan anggotanya dapat terjaga.
Bernard percaya bahwa
keseimbangan antara tujuan organisasi dengan individu dapat dijaga apabila
manajer mengerti konsep wilayah penerimaan (zone of acceptance), dimana
pekerja akan menerima instruksi atasannya tanpa mempertanyakan otoritas
manajemen.
3) Teori Manajemen
Kontemporer
Beberapa pendekatan
sudah dibicarakan dimuka, dimana pendekatan-pendekatan tersebut mengalami
perkembangan. Ada beberapa perkembangan yang cenderung mengintegrasikan
pendekatan-pendekatan sebelumnya, menjadikan batas-batas pendekatan yang telah
dibicarakan menjadi tidak jelas. Namun demikian ada pendekatan yang tetap
berakar pada pendekatan-pendekatan tertentu. Bagian berikut ini akan
membicarakan pendekatan baru dalam manajemen :
1)
Pendekatan Sistem
Sistem dapat diartikan
sebagai gabungan sub-sub sistem yang saling berkaitan. Organisasi sebagai suatu
sistem akan dipandang secara keseluruhan, terdiri dari bagian-bagian yang
berkaitan (sub-sistem), dan sistem/organisasi tersebut akan berinteraksi dengan
lingkungan.
Model pendekatan sistem
dapat digambarkan sebagai berikut[10]
:
|
INPUT
|
|
PROSES TRANSFORMASI
|
|
OUTPUT
|
|
INTERAKSI DENGAN
LINGKUNGAN
|
|
FEED
BACK
|
Pada proses selanjutnya
pendekatan inilah yang selama ini digunakan dalam sistem manajemen pendidikan
di indonesia. Sebelum munculnya sistem pendekatan-pendekatan yang baru.
2)
Pendekatan Situasional (Contingency)
Pendekatan ini
menganggap bahwa efektivitas manajemen tergantung pada situasi yang
melatarbelakanginya. Prinsip manajemen yang sukses pada situasi tertentu, belum
tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya. Tugas manajer adalah
mencari teknik yang paling baik untuk mencapai tujuan organisasi, dengan
melihat situasi, kondisi, dan waktu yang tertentu.
Pendekatan situasional
memberikan “resep praktis” terhadap persoalan manajemen. Tidak mengherankan
jika pendekatan ini dikembangkan manajer, konsultan, atau peneliti yang banyak
berkecimpung dengan dunia nyata. Pendekatan ini menyadarkan manajer bahwa
kompleksitas situasi manajerial, membuat manajer fleksibel atau sensitif dalam
memilih teknik-teknik manajemen yang terbaik berdasarkan situasi yang ada.
Namun pendekatan ini
dalam perkembangannya dikritik karena tidak menawarkan sesuatu yang baru.
Pendekatan ini juga belum dapat dikatakan sebagai aliran atau disiplin
manajemen baru, yang mempunyai batas-batas yang jelas.
3)
Pendekatan Hubungan Manusia Baru (Neo-Human Relation)
Pendekatan ini berusaha
mengintegrasikan sis positif manusia dan manajemen ilmiah. Pendekatan ini
melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang emosional, intuitif, dan kreatif.
Dengan memahami kedudukan manusia tersebut, prinsip manajemen dapat
dikembangkan lebih lanjut. Tokoh yang dapat disebut mewakili aliran ini adalah
W. Edwadr Deming, yang mengembangkan prinsip-prinsip manajemen seperti Fayol
yang berfokus pada kualitas kerja dan hubungan antar karyawan.
Dalam perjalanannya
pendekatan ini masih membutuhkan waktu untuk sampai dikatakan sebagai aliran
manajemen baru. Meskipun demikian pendekatan tersebut cukup populer baik
dilingkungan akademis maupun praktis. Ide-ide pendekatan tersebut banyak
mempengaruhi praktek manajemen saat ini.
Dari perkembangan teori
majanemen tersebut di atas (mulai dari Teori Klasik (1856 – 1916),
Periode Solidification (1920 – 1930), Human Relation (1927 – 1933),
Behavioral Science (1938 – 1960), Teori Sistem (1960 – 1970an),
Teori Kontingensi (1970an), Teori Z (1980 – 1990)) dapat dibuat
bagan sebagai berikut :
B. STUDI KASUS DI INDONESIA
1. Beberapa Masalah Manajemen di Indonesia
Sejak zaman orde lama,
orde baru sampai sekarang zaman reformasi, sistem pendidikan Nasional kita
masih belum mempunyai perubahan yang signifikan. Persoalan pendidikan di
Indonesia dewasa ini sangat kompleks. Permasalahan yang besar antara lain
menyangkut persoalan mutu pendidikan, pemerataan pendidikan, dan manajemen
pendidikan. Mengenai mutu pendidikan menurut Paul Suparno adalah masalah
mengenai kurikulum, proses pembelajaran, evaluasi, buku ajar, mutu guru, sarana
dan prasarana. Termasuk pemerataan pendidikan adalah masih banyaknya anak umur
sekolah yang tidak dapat menikmati pendidikan formal di sekolah. Sedang
persoalan manajemen pendidikan adalah menyangkut segala macam pengaturan
pendidikan seperti otonomi pendidikan, birokrasi, dan transparansi agar kualitas
dam pemerataan pendidikan dapat terselesaikan.[11]
Inilah persoalan yang
besar sebenarnya, karena bagaimanapun juga ketika sebuah intitusi pendidikan
tidak mempunyai sistim manajemen pendidikan yang baik, maka dapat dipastikan
mutu pendidikannya pun bisa jadi tidak baik pula. Sebagaimana yang dirasakan
dalam sistem manajemen pendidikan kita dewasa ini, dengan munculnya Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) dimungkinkan akan sedikit menjawab persoalan tersebut.
Di atas juga sudah
diterangkan tentang manajemen secara umum yang itu diterapkan dalan manajemen
pendidikan kita. Seperti halnya sistem manajemen yang ditemukan oleh
tokoh-tokoh manajemen, yaitu (POAC) Planning, Organizing, Actuating, dan
Controling. Adalah sistem manajemen yang sangat luar biasa ketika itu
dilakasanakan dengan sempurna.
Sistem Manajemen
Pendidikan yang terjadi di Indonesia sejak zaman orde baru (yang masih
menggunakan manajemen pendidikan sentralistik) sampai kemudian muncul Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) yang sudah cenderung kepada otomisasi lembaga-lembaga
pendidikan (desentralisasi pendidikan), mempunyai arti yang sangat luas.
Disamping mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Persoalan inilah
yang akan kita bahas selanjutnya.
2. Analisis
Sejak zaman Orde Baru
telah banyak yang di capai dalam pembangunan nasional termasuk bidang
pendidikan. Kemajuan ini juga mendapat pengakuan dari seluruh dunia dengan
diberikannya penghargaan Avisiena kepada Presiden Republik Indonesia
karena keberhasilan melaksanakan wajib belajar sekolah dasar. Namun
ditengah-tengah kesuksesan yang telah dicapai tersebut masih banyak
permasalahan yang perlu diselesaikan, seperti halnya pengangguran tenaga-tenaga
terdidik hasil dari sistem pendidikan kita. Disatu pihak pendidikan kita telah
melahirkan lulusan pendidikan tinggi dan menengah tetapi dilain pihak menambah
pengangguran.[12]
Sebagaimana dijelaskan
oleh H.A.R Tilaar, bahwa di dalam sistem pendidikan sekurang-kurangnya berisi
faktor-faktor biaya, pengelola, institusi, dan sistem manajemennya.[13]
Sistem manajemen pendidikan kita (era orde lama dan orde baru) masih terlalu
sentralistik (pemerintah pusat), sebagaimana kita tahu bahwa suatu sistem yang
sentralistik dan birokratik, maka ruang-gerak untuk inovasi sangat terbatas.
Demikian pula kreativitas dari para pendidiknya boleh dikatakan menjadi hilang
karena segala sesuatu telah ditentukan menurut garis-garis yang ditentukan.
Sehingga apa yang diinginkan daerah (lembaga pendidikan) tidak tercapai karena
sifat yang sentralistik tersebut. Hasilnya adalah jumlah out-put banyak namun
itu menambah pengangguran yang banyak pula.
Pada era reformasi
mulai muncul Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) seiring dengan bergulirnya
otonomi daerah (pelimpahan wewenang pemerintah pusat pada pemerintah daerah).
Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam bahasa Inggris disebut ”School
Based Management” merupakan strategi yang jitu untuk mencapai manajemen
sekolah yang efektif dan efisien. Konsep ini pertama kali muncul di Amerika
Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu masyarakat mempertanyakan apa yang
dapat diberikan sekolah kepada masyarakat dan juga apa relevansi dan korelasi
pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan masyarakat.[14]
Model MBS ini adalah
suatu ide dimana kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan proses belajar
mengajar, yakni sekolah. Konsep ini didasarkan pada “Self Determination
Theory” yang menyatakan bahwa apabila seseorang atau kelompok memiliki
kekuasaan untuk mengambil keputusan sendiri, maka orang atau kelompok tersebut
akan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melaksanakan apa yang telah
diputuskan tersebut.[15]
Dalam pelaksanaan MBS tersirat adanya tugas sekolah untuk meningkatkan mutu
pendidikan menggunakan strategi yang lebih memberdayakan semua potensi sekolah
secara optimal.
Sisi kelebihan
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dibandingkan dengan model sentralistik adalah
sekolah memiliki kekuasaan, antara lain : (1) mengambil keputusan berkaitan
dengan pengelolaan kurikulum; (2) keputusan berkaitan dengan rekruitmen dan
pengelolaan guru dan pegawai administrasi; (3) keputusan berkaitan dengan
pengelolaan sekolah. Dengan demikian dapat dilihat sekaligus ditegaskan bahwa
model MBS ini pada hakekatnya adalah memberikan otonomi yang lebih luas kepada
sekolah, dengan tujuan akhir meningkatkan mutu hasil penyelenggaraan pendidikan
melalui peningkatan kinerja dan partisipasi semua stakeholdernya.
Demikian pula yang
disampaikan Mulyasa bahwa kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti
dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan
beberapa keuntungan berikut : (1) Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa
pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru; (2) Bertujuan
bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal; dan (3) Efektif dalam melakukan
pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan,
tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.[16]
Disamping itu dalam
sebuah sekolah, tanggung jawab pokok untuk pembentukan moral dan intelektual
akhirnya tidak terletak pada salah satu prosedur atau kegiatan baik
intra-kurikuler maupun ekstra-kurikuler; akan tetapi terletak pada pengajarnya.
Sekolah merupakan kebersamaan bersemuka, tempat hubungan personel otentik
antara pengajar dan pelajar dapat berkembang. Tanpa persahabatan ragam itu
banyak kekuatan dari pendidikan dan pengajaran akan menghilang. Hubungan saling
percaya dan persahabatan otentik antara pengajar dan pelajar merupakan syarat
mutlak pertumbuhan sejati dari komitmen kepada nilai-nilai. Proses itu semua
akan terwujud ketika berada dalam ruang lingkup manajemen yang baik, dan ini
menurut J. Drost, SJ akan terwujud dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)[17].
BAB III
PENUTUP KESIMPULAN
1. Kesimpulan
a. Manajemen Pendidikan sebenarnya berkembang dan mengadopsi dari teori
Manajemen di bidang ekonomi. Teori Manajemen pada awalnya dikembangkan oleh
tokoh-tokoh yang bergerak dalam bidang bisnis.
b. Dalam perkembangannya Teori Manajemen dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu : (1) Teori Manajemen Kuno; (2) Teori Manajemen Klasik (tokohnya antara
lain Robert Owen (1771-1858) & Charles Babbage (1792-1871) ); dan (3) Teori
Manajemen Kontemporer.
c. Perkembangan manajemen pendidikan di Indonesia pada orde baru sangat
diwarnai dengan manajemen yang sentralistik, kemudian pada perkembangannya pada
era reformasi berkembang menjadi desentralisasi atau dikenal dengan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) yang intinya sekolah diberi wewenang untuk mengatur
semua kegiatan sekolah. Ini seiring dengan pemberian wewenang pemerintah pusat
pada pemerintah daerah (otonomi daerah).
DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa, Dr. M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep,
Strategi dan Implementasi), Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, cet. 3 &
4, 2003.
H. Syaiful Sagala, Dr. M.Pd., Administrasi
Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung. 2000.
H.A.R. Tilaar, Prof. Dr. M.Sc.Ed., Beberapa Agenda
Reformasi Pendidikan Nasional (dalam perspektif abad 21), Magelang, Tera
Indonesia. 1998.
J. Drost, SJ., Dari KBK (Kurikulum Bertujuan
Kompetensi) Sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Jakarta, PT. Kompas
Media Nusantara, 2005.
Luwis R. Benston, Supervision and Management, New
York, McGraw Hill Book Company, 1972.
Made Pidarta, Prof. Dr., Manajemen Pendidikan
Indonesia, Crt. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2004.
Mamduh M. Hanafi, Drs. MBA, Manajemen, Yogyakarta,
Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997.
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta,
Gunung Agung, 1985.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Penjelasannya, Yogyakarta, Media Wacana Press, 2003.
Wajong J, Fungsi Administrasi Negara, Jakarta, Djambatan,
1983.
[1] Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Penjelasannya, Yogyakarta, Media Wacana
Press, 2003. hlm. 9
[2] Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Manajemen, Yogyakarta,
Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997. hlm. 30
[3] Prof. Dr. Made Pidarta, Manajemen Pendidikan
Indonesia, Crt. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2004, hlm. 1
[5] Luwis R. Benston, Supervision and Management, New
York, McGraw Hill Book Company, 1972, hlm. 278-279.
[7] Dr. H. Syaiul Sagala, M.Pd, Administrasi
Pendidikan Kontemporer, Bandung, Alfabeta, 2000, hlm. 22
[11] J. Drost, SJ., Dari KBK (Kurikulum Bertujuan
Kompetensi) Sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah),
Jakarta, PT. Kompas Media Nusantara. 2005. hlm. ix.
[12] Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed., Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan
Nasional (dalam perspektif abad 21), Magelang, Tera Indonesia. 1998. hlm. 75
[16] Dr.
E. Mulyasa, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan
Implementasi), Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, cet. 3 & 4, 2003. hlm.
24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar